Pemanfaatan Data Satelit Himawari-8 Untuk Analisis Kejadian Hujan Sangat Lebat di Kabupaten Nabire Papua Tengah

Image of Pemanfaatan Data Satelit Himawari-8 Untuk Analisis Kejadian Hujan Sangat Lebat di Kabupaten Nabire Papua Tengah
Throughout March 2016 in Papua Nabire, the rain fell intensively ranging from slight to very heavy. The very heavy rainfalls reaching ? 100 mm per day on 12, 21, and 22 in that month has caused flooding and breaking of several bridges across districts. Thus, meteorological analysis needs to be done to describe the atmospheric condition and to determine the causes of the very heavy rainfalls both regionally and locally. Himawari-8 satellite is used to analyze cloud conditions, cloud tops temperature, and cloud tops temperature contour to determine the spatial distribution of clouds. Based on the analysis, it's concluded that the heavy rainfall occurred in Nabire on March 12 because the stratifonn clouds brought continuously heavy rainfalls with 150.6 mm per day in intensity. Furthermore, the rainfalls occurrence on March 21 and 22 was dominated by convective clouds Cumulonimbus that made the rain fell within a short time but high intensity, which was 160 mm per day on March 21, and 190.7 mm per day on March 22, 2016.
Sepanjang bulan Maret 2016, wilayah Nabire Papua diguyur hujan mulai dari intensitas ringan hingga sangat lebat. Hujan sangat lebat dengan intensitas mencapai > 100 mm per hari pada tanggal 12, 21 dan 22 Maret 2016 telah menyebabkan terjadinya banjir dan terputusnya beberapa jembatan penghubung antar kecamatan. Analisis meteorologis dilakukan untuk mengetahui gambaran kondisi atmosfer pada saat kejadian hujan serta Untuk mengetahui penyebab terjadinya hujan baik dalam skala regional maupun lokal. Satelit Himawari-8 digunakan untuk melihat kondisi per-awan-an, suhu puncak awan dan kontur suhu puncak awan untuk mengetahui sebaran awan scara spasial. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa hujan sangat lebat yang terjadi di Nabire pada tanggal 12 Maret disebabkan oleh awan stratiform yang menyebabkan hujan terjadi terus-menerus dengan intensitas 150,6 mm per hari. Untuk hujan pada tanggal 21 dan 22 didominasi oleh awan konvektif Cumulonimbus yang menyebabkan hujan terjadi dalam rentang waktu yang singkat namun intensitasnya tinggi, yakni 160 mm per hari pada tanggal 21 Maret dan 190,7 mm per hari pada tanggal 22 Maret 2016.
Informasi Detil
Judul Seri Prosiding Seminar Nasional Sains Atmosfer (SNSA) 2016: Kontribusi Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional
No. Panggil -
Penerbit PSTA LAPAN : Bandung.,
Deskripsi Fisik Hal. 195-204
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN 976-602-6465-05-4
Klasifikasi makalah prosiding
Edisi 2016
Subyek cumulonimbus
himawari-8
stratiform
Pernyataan Tanggungjawab
Pusat Sains Dan Teknologi Atmosfer
Versi lain/terkait
JudulEdisiBahasa
Prosiding Seminar Nasional Sains Atmosfer (SNSA) 2016: Kontribusi Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional2016id
Metode Estimasi Konsentrasi Gas Rumah Kaca Waktu Lampau (Paleoklimatologi)2016id
Skema Parameterisasi Kumulus Untuk Prediksi Hujan di Wilayah Bandar lampung2016id
Analisis Dinamika Atmosfer dan Lautan Bulan Januari-Februari 2016 di PAdang2016id
Pengolahan Data Atmosfer level SDR dari Sensor ATMS dan Cris pada Satelit S-NPP2016id
Estimasi Konsentrasi SO2 Ambien Dengan Aerosol Optical Depth (AOD)2016id
Pengolahan Data NOAA-19 untuk Menghasilkan Data Water Vapor Mixing Ratio Dengan Menggunakan Software IAPP2016id
Analisis Kondisi Vertical Windshear terhadap Pergerakan Mesoscale Convective Complex di Laut Jawa Saat Desember 20142016id
Anomali Curah Hujan Bulanan Di BMI Selama Fenomena El Nino 2015/2016 Pada Musim Basah2016id
Basis Data Atmosfer Dengan Model Multidimensional2016id
Analisis Pola Spatio-Temporal dan Komparasi Hasil Dowscaling CCAM (Conformal Cubic Atmospheric Model) Untuk Parameter Curah Hujan 3 Jam-an2016id
Pemodelan Hujan Wilayah di Pulau Jawa2016id
Analisis Kejadian Puting Beliung di Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya Menggunakan Citra Radar Cuaca dan Model WRF-ARW (Studi kasus tanggal 4 Februari 2016)2016id
Analisis Spasial dan Temporal Sambaran Petir CG di Wilayah Bali Tahun 2009-20152016id
Hubungan Angin Lokal Ekuatorial dan Angin Lokal Lintang Menengah Dengan Sirkulasi Skala Makro2016id
Tingkat Kerentanan Sistem Pertanian Skala Lokal Akibat Perubahan Iklim (Studi Kasus : Kabupaten Kerawang)2016id
Pengaruh Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 Pada Parameter Meteorologi di Stasiun Meteorologi 745 Kemayoran2016id
Hubungan Kejadian Simultan El Nino Dan Indian Ocean (IOD) Terhadap Variasi Serta Estimasi Suhu Virtual2016id
Interkomparasi Teknik Estimasi Curah Hujan2016id
Variasi Spasial dan Temporal Ketebalan Optik Aerosol di Indonesia Dari SNPP/VIIRS2016id
Profil Vertikal Asam Nitrat (HNO3) di Stratosfer Indonesia Berbasis Satelit2016id
Sensitivitas Model WRF terhadap Perbedaan Batas Atas Tekanan Model2016id
Korelasi Ketebalan Awan dan Konsentrasi Aerosol Pada Berbagai Kejadian Hujan Berdasarkan Perhitungan Model Kore-Feingold (KF)2016id
Variabilitas Divergensi Fluks Radiasi di Indonesia2016id
Penelusuran Debit Banjir Berdasar Analisis Curah Hujan Rencana (studi kasus: Das Komering Hulu, Danau Ranau-Bendung Perjaya)2016id
Kejadian Osilasi Madden-Julian (MJO) Fase Aktif Saat Monsun Musim Dingin Asia Serta Pengaruhnya Terhadap Curah Hujan2016id
Potensi Long-Range Transport Polutan Udara Dari Cekungan Bandung2016id
Identifikasi Sumber Polutan Berdasarkan Trayektori Massa Udara di Semarang2016id
Pengamatan Wahana Angkasa Beresolusi Tinggi Terhadap Klimatologi Petir di Benua Maritim2016id
Lampiran Berkas
Komentar

Pilih Bahasa

Tipe Koleksi Dipublikasikan

Tipe Koleksi Tidak Dipublikasikan.

Advanced Search

License

This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3.