Variasi Spasial dan Temporal Ketebalan Optik Aerosol di Indonesia Dari SNPP/VIIRS

Image of Variasi Spasial dan Temporal Ketebalan Optik Aerosol di Indonesia Dari SNPP/VIIRS
Aerosol effect on human health, weather, and climate. Sources of aerosols can be pollution from factories and smoke from fires. Aerosol Optical Thickness (AOT) obtained from the sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) on the satellite Suomi National Polar-Orbiting Partnership (SNPP) during the three years of observation (2013 to 2015) shows the region of western Indonesia, namely Sumatra, Java and Kalimantan has AOT larger than the eastern part. Western part of Java and Riau have higher AOT values (> 0.5) than any other region. AOT value of the highest monthly average was found in October 2015 in Sumatra (6° N-6° S dan 95° E-108°E) 0.97, part of Kalimantan (2° N-4° S dan 108° E-120° E) at 0.90, and Java (8°45' S-6° S dan 105° E-115° E) of 0.57. AOT average annual show in 2013 has AOT with a smaller value than in 2014 and 2015. The minimum AOT in Sumatra and Kalimantan occurred in May 2013, while in Java in December 2013. The increase in the value of AOT in Sumatra comparable to the increase the number of hot spots that have a correlation of 0.89, while in Kalimantan also apply the same thing with a correlation value of 0.94.
Aerosol berpengaruh pada kesehatan manusia, cuaca, dan iklim. S umber aerosol dapat berupa polusi dan pabrik dan asap dan kebakaran. Ketebalan optik aerosol (AOT) yang diperoleh dari sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada satelit Suomi National Polar-Orbiting Partnership (SNPP) selama tiga tahun pengamatan (2013 sampai 2015) menunjukkan kawasan Indonesia bagian barat yaitu Sumatra, Jawa, dan Kalimantan memiliki AOT lebih besar dibanding bagian timur. Wilayah Jawa bagian barat dan Riau memiliki nilai AOT lebih tinggi (>0,5) dibanding wilayah lainnya. Nilai AOT rata-rata bulanan tertinggi dijumpai pada bulan Oktober 2015 di Sumatra (6° LU-6° LS dan 95° BT-108° BT) sebesar 0,97, sebagian Kalimantan (2° LU-4° LS dan 108° BT-120° BT) sebesar 0,90, dan Jawa (8°45' LS-6° LS dan 105° BT-115° BT) sebesar 0,57. AOT rata-rata tahunan menunjukkan tahun 2013 memiliki AOT dengan nilai yang lebih kecil dibanding tahun 2014 dan 2015. AOT minimum di Sumatra dan sebagian Kalimantan terjadi pada bulan Mei 2013, sementara di Jawa pada bulan Desember 2013. Peningkatan nilai AOT di Sumatra sebanding dengan peningkatan jumlah titik panas yaitu memiliki korelasi sebesar 0,89, sementara di Kalimantan juga berlaku hal yang sama dengan nilai korelasi 0,94.
Informasi Detil
Judul Seri Prosiding Seminar Nasional Sains Atmosfer (SNSA) 2016: Kontribusi Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional
No. Panggil -
Penerbit PSTA LAPAN : Bandung.,
Deskripsi Fisik Hal. 163-170
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN 976-602-6465-05-4
Klasifikasi makalah prosiding
Edisi 2016
Subyek aerosol optical thickness
SNPP/VIIRS
Pernyataan Tanggungjawab
Pusat Sains Dan Teknologi Atmosfer
Versi lain/terkait
JudulEdisiBahasa
Prosiding Seminar Nasional Sains Atmosfer (SNSA) 2016: Kontribusi Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional2016id
Metode Estimasi Konsentrasi Gas Rumah Kaca Waktu Lampau (Paleoklimatologi)2016id
Skema Parameterisasi Kumulus Untuk Prediksi Hujan di Wilayah Bandar lampung2016id
Analisis Dinamika Atmosfer dan Lautan Bulan Januari-Februari 2016 di PAdang2016id
Pengolahan Data Atmosfer level SDR dari Sensor ATMS dan Cris pada Satelit S-NPP2016id
Estimasi Konsentrasi SO2 Ambien Dengan Aerosol Optical Depth (AOD)2016id
Pengolahan Data NOAA-19 untuk Menghasilkan Data Water Vapor Mixing Ratio Dengan Menggunakan Software IAPP2016id
Analisis Kondisi Vertical Windshear terhadap Pergerakan Mesoscale Convective Complex di Laut Jawa Saat Desember 20142016id
Anomali Curah Hujan Bulanan Di BMI Selama Fenomena El Nino 2015/2016 Pada Musim Basah2016id
Basis Data Atmosfer Dengan Model Multidimensional2016id
Analisis Pola Spatio-Temporal dan Komparasi Hasil Dowscaling CCAM (Conformal Cubic Atmospheric Model) Untuk Parameter Curah Hujan 3 Jam-an2016id
Pemodelan Hujan Wilayah di Pulau Jawa2016id
Analisis Kejadian Puting Beliung di Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya Menggunakan Citra Radar Cuaca dan Model WRF-ARW (Studi kasus tanggal 4 Februari 2016)2016id
Analisis Spasial dan Temporal Sambaran Petir CG di Wilayah Bali Tahun 2009-20152016id
Hubungan Angin Lokal Ekuatorial dan Angin Lokal Lintang Menengah Dengan Sirkulasi Skala Makro2016id
Tingkat Kerentanan Sistem Pertanian Skala Lokal Akibat Perubahan Iklim (Studi Kasus : Kabupaten Kerawang)2016id
Pengaruh Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 Pada Parameter Meteorologi di Stasiun Meteorologi 745 Kemayoran2016id
Hubungan Kejadian Simultan El Nino Dan Indian Ocean (IOD) Terhadap Variasi Serta Estimasi Suhu Virtual2016id
Interkomparasi Teknik Estimasi Curah Hujan2016id
Profil Vertikal Asam Nitrat (HNO3) di Stratosfer Indonesia Berbasis Satelit2016id
Sensitivitas Model WRF terhadap Perbedaan Batas Atas Tekanan Model2016id
Korelasi Ketebalan Awan dan Konsentrasi Aerosol Pada Berbagai Kejadian Hujan Berdasarkan Perhitungan Model Kore-Feingold (KF)2016id
Pemanfaatan Data Satelit Himawari-8 Untuk Analisis Kejadian Hujan Sangat Lebat di Kabupaten Nabire Papua Tengah2016id
Variabilitas Divergensi Fluks Radiasi di Indonesia2016id
Penelusuran Debit Banjir Berdasar Analisis Curah Hujan Rencana (studi kasus: Das Komering Hulu, Danau Ranau-Bendung Perjaya)2016id
Kejadian Osilasi Madden-Julian (MJO) Fase Aktif Saat Monsun Musim Dingin Asia Serta Pengaruhnya Terhadap Curah Hujan2016id
Potensi Long-Range Transport Polutan Udara Dari Cekungan Bandung2016id
Identifikasi Sumber Polutan Berdasarkan Trayektori Massa Udara di Semarang2016id
Pengamatan Wahana Angkasa Beresolusi Tinggi Terhadap Klimatologi Petir di Benua Maritim2016id
Komentar

Pilih Bahasa

Tipe Koleksi Dipublikasikan

Tipe Koleksi Tidak Dipublikasikan.

Advanced Search

License

This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3.