Pemodelan Hujan Wilayah di Pulau Jawa

Image of Pemodelan Hujan Wilayah di Pulau Jawa
The spatial rainfall variation in Java show uncommon distribution in many regions. The goals of this paper are to determine the quantity and distribution of rainfall that occurred in Java. Knowing the quantity and distribution of rainfall are important because they are correlated to water resource management, disaster risk reduction, and support the development of a region. Currently, those analysis have been supported by the development of Geographical In.rmation System (GIS) including spatial rainfall analysis. Rainfall data used in this research are obtained from Meteorology, Climatology, and Geophysics institution (BMKG). The rainfall modeling in this research was carried out several methods such as Spline, Inverse Distance Weighting, Ordinary Kriging, and Universal Kriging. The method used in rainfall modelling is Tension Spline. Tension Spline shows the lowest RMSE 55.1. Maps show that the eastern region of Java have lower rainfall than the western region which tend to be wet. This is consistent with the theory that Asia Monsoon starts from the west, while the Australian Monsoon starts from the east.
Variasi spasial curah hujan di Pulau Jawa menunjukkan distribusi yang tidak seragam pada berbagai wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan distribusi curah hujan yang terjadi di Pulau Jawa. Jumlah dan distribusi curah hujan penting untuk diketahui karena berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya air, pengurangan risiko bencana, dan menunjang pembangunan daerah. Saat ini analisis tersebut telah didukung dengan perkembangan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) termasuk analisis spasial curah hujan. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hujan yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pemodelan hujan wilayah dilakukan dengan beberapa metode yaitu Spline, Inverse Distance Weighting, Ordinary Kriging, dan Universal Kriging. Pemodelan hujan wilayah yang digunakan adalah Tension Spline. Metode tersebut menghasilkan RMSE yang kecil yaitu 55,1. Peta isohyet menunjukkan bahwa wilayah Jawa bagian timur memiliki curah hujan yang lebih sedikit, sedangkan wilayah Jawa bagian barat cenderung lebih basah. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Monsun Asia dimulai dari barat, sedangkan Monsun Australia dimulai dari timur.
Informasi Detil
Judul Seri Prosiding Seminar Nasional Sains Atmosfer (SNSA) 2016: Kontribusi Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional
No. Panggil -
Penerbit PSTA LAPAN : Bandung.,
Deskripsi Fisik Hal. 82-89
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN 976-602-6465-05-4
Klasifikasi makalah prosiding
Edisi 2016
Subyek Rainfall
GIS
Java
Modelling
Pernyataan Tanggungjawab
Pusat Sains Dan Teknologi Atmosfer
Versi lain/terkait
JudulEdisiBahasa
Prosiding Seminar Nasional Sains Atmosfer (SNSA) 2016: Kontribusi Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional2016id
Metode Estimasi Konsentrasi Gas Rumah Kaca Waktu Lampau (Paleoklimatologi)2016id
Skema Parameterisasi Kumulus Untuk Prediksi Hujan di Wilayah Bandar lampung2016id
Analisis Dinamika Atmosfer dan Lautan Bulan Januari-Februari 2016 di PAdang2016id
Pengolahan Data Atmosfer level SDR dari Sensor ATMS dan Cris pada Satelit S-NPP2016id
Estimasi Konsentrasi SO2 Ambien Dengan Aerosol Optical Depth (AOD)2016id
Pengolahan Data NOAA-19 untuk Menghasilkan Data Water Vapor Mixing Ratio Dengan Menggunakan Software IAPP2016id
Analisis Kondisi Vertical Windshear terhadap Pergerakan Mesoscale Convective Complex di Laut Jawa Saat Desember 20142016id
Anomali Curah Hujan Bulanan Di BMI Selama Fenomena El Nino 2015/2016 Pada Musim Basah2016id
Basis Data Atmosfer Dengan Model Multidimensional2016id
Analisis Pola Spatio-Temporal dan Komparasi Hasil Dowscaling CCAM (Conformal Cubic Atmospheric Model) Untuk Parameter Curah Hujan 3 Jam-an2016id
Analisis Kejadian Puting Beliung di Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya Menggunakan Citra Radar Cuaca dan Model WRF-ARW (Studi kasus tanggal 4 Februari 2016)2016id
Analisis Spasial dan Temporal Sambaran Petir CG di Wilayah Bali Tahun 2009-20152016id
Hubungan Angin Lokal Ekuatorial dan Angin Lokal Lintang Menengah Dengan Sirkulasi Skala Makro2016id
Tingkat Kerentanan Sistem Pertanian Skala Lokal Akibat Perubahan Iklim (Studi Kasus : Kabupaten Kerawang)2016id
Pengaruh Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 Pada Parameter Meteorologi di Stasiun Meteorologi 745 Kemayoran2016id
Hubungan Kejadian Simultan El Nino Dan Indian Ocean (IOD) Terhadap Variasi Serta Estimasi Suhu Virtual2016id
Interkomparasi Teknik Estimasi Curah Hujan2016id
Variasi Spasial dan Temporal Ketebalan Optik Aerosol di Indonesia Dari SNPP/VIIRS2016id
Profil Vertikal Asam Nitrat (HNO3) di Stratosfer Indonesia Berbasis Satelit2016id
Sensitivitas Model WRF terhadap Perbedaan Batas Atas Tekanan Model2016id
Korelasi Ketebalan Awan dan Konsentrasi Aerosol Pada Berbagai Kejadian Hujan Berdasarkan Perhitungan Model Kore-Feingold (KF)2016id
Pemanfaatan Data Satelit Himawari-8 Untuk Analisis Kejadian Hujan Sangat Lebat di Kabupaten Nabire Papua Tengah2016id
Variabilitas Divergensi Fluks Radiasi di Indonesia2016id
Penelusuran Debit Banjir Berdasar Analisis Curah Hujan Rencana (studi kasus: Das Komering Hulu, Danau Ranau-Bendung Perjaya)2016id
Kejadian Osilasi Madden-Julian (MJO) Fase Aktif Saat Monsun Musim Dingin Asia Serta Pengaruhnya Terhadap Curah Hujan2016id
Potensi Long-Range Transport Polutan Udara Dari Cekungan Bandung2016id
Identifikasi Sumber Polutan Berdasarkan Trayektori Massa Udara di Semarang2016id
Pengamatan Wahana Angkasa Beresolusi Tinggi Terhadap Klimatologi Petir di Benua Maritim2016id
Lampiran Berkas
Komentar

Pilih Bahasa

Tipe Koleksi Dipublikasikan

Tipe Koleksi Tidak Dipublikasikan.

Advanced Search

License

This software and this template are released Under GNU GPL License Version 3.